Dengan sisa kehendak terakhir, Lynx mendorong Ling Mei agar menjauh. Tanpa ragu, ia mengangkat tangannya dan menghantam tubuhnya sendiri.

BOOM!

Darah menyembur dari tubuhnya. Dalam satu pukulan, ia menghancurkan saraf dan dantiannya, memutuskan aliran energi iblis yang merajalela.

Tubuhnya berlutut, darah menetes dari setiap pori-porinya. Napasnya tersengal, matanya kabur. Namun sebelum kehilangan kesadaran, ia sempat tersenyum samar.

"Xiao Ling!"

Ling Mei berlari, menangkap tubuhnya yang hampir jatuh ke tanah. "Jangan mati!"

Air matanya semakin deras. Tanpa ragu, ia mengaktifkan formasi teleportasi yang ada di tempat itu dan membawa Lynx keluar dari dunia kecil sebelum semuanya terlambat.

***

Di suatu tempat yang jauh dari Kota Huoling, di bawah terik matahari siang, Yin Yue terhuyung-huyung di atas sebuah tebing tandus. Keringat membasahi wajahnya, napasnya tersengal-sengal. Di tangannya, fragmen senjata iblis berdenyut, mengeluarkan energi hitam pekat yang terus merasuk ke dalam tubuhnya tanpa ampun.

"A-aku… sudah… mendapatkannya…" Suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.

Namun semakin lama ia menggenggamnya, semakin lemah tubuhnya. Energi iblis dari fragmen itu menyusup ke nadinya, merusak organ dalamnya, menghancurkan dantiannya perlahan. Rasa sakitnya begitu luar biasa, seolah ada ribuan pisau yang mencabik-cabik tubuhnya dari dalam.

Di hadapannya, seorang pria berjubah hitam berdiri tenang, tudungnya menutupi sebagian besar wajahnya. Cahaya matahari siang hanya mempertegas aura gelap yang menyelimuti sosoknya.

"Kau telah menjalankan tugasmu dengan baik," suara pria itu dingin dan datar.

Dengan tangan gemetar, Yin Yue mengangkat fragmen itu dan menyerahkannya. Begitu pria itu menerimanya, tubuh Yin Yue langsung melemas, jatuh berlutut di tanah.

"Ja-jangan lupakan… janjimu…" bisiknya lemah.

Pria itu menatapnya sekilas, lalu tersenyum samar. "Janji?"

Dalam sekejap, hawa iblis di dalam tubuh Yin Yue mengamuk, seolah kehilangan kendali.

"A-ARGH!" Yin Yue menjerit, tubuhnya kejang-kejang.

Urat-urat hitam muncul di bawah kulitnya, merayap seperti akar iblis yang hendak menguasai tubuhnya. Matanya melebar saat menyadari nasibnya—ia tak lagi bisa menahan kekuatan gelap yang telah menguasainya. Dalam hitungan detik, tubuhnya meledak dari dalam, melepaskan gelombang energi iblis yang bergetar di udara.

Pria berjubah hitam itu tetap berdiri tenang, tidak terpengaruh sedikit pun oleh ledakan itu. Ia menatap fragmen senjata iblis di tangannya, lalu menyeringai puas.

"Ini baru permulaan…" bisiknya sebelum sosoknya menghilang dalam bayangan.

***

Langit siang menyelimuti Bukit Langit, tempat di mana Ling Mei pertama kali memasuki dunia kecil. Angin bertiup lembut, namun ketegangan di hatinya terlalu besar untuk menikmati ketenangan itu.

Ling Mei menoleh ke belakang, ke arah gerbang artefak dunia kecil yang masih terbuka. Energi iblis masih terlihat berputar di sekitar celah itu, terlihat keluar merembes dari dunia kecil. Dengan cepat, ia mencoba menutupnya, menuangkan seluruh kekuatan spiritualnya untuk menekan formasi yang sudah melemah. Namun, sekeras apa pun ia mencoba, gerbang itu tetap terbuka.

Wajahnya memucat. Tidak ada waktu lagi. Lynx butuh pertolongan segera.

Dengan tubuh Lynx yang tak sadarkan diri dalam gendongannya, Ling Mei segera bergegas menuju rumah wali kota Huoling.

Saat memasuki kota, pemandangan yang menyambutnya membuat dadanya terasa sesak. Tubuh-tubuh tergeletak di jalanan, beberapa sudah tak bernyawa. Namun sebagian besar penduduk berhasil berlindung di balik formasi pelindung yang dipasang oleh Lynx sebelum ia kehilangan kendali. Rumah wali kota masih berdiri kokoh, dikelilingi oleh lapisan energi yang bergetar samar.

Begitu Ling Mei melangkah masuk ke halaman utama, beberapa sosok segera menyambutnya. Wali Kota Huoling, Komandan Jiang, Li Wei, dan Li Mei langsung menatapnya dengan ekspresi terkejut. Namun yang paling bereaksi adalah Jelita.

"Xiao Ling!" Jelita menjerit histeris dan berlari ke arah mereka, air mata menggenang di matanya. "Apa yang terjadi padanya?! Berikan dia padaku!"

Namun sebelum Jelita bisa meraih Lynx, Ling Mei sudah lebih dulu membawanya masuk ke dalam rumah.

"Dia harus segera dirawat!" serunya tanpa menoleh.

Jelita terdiam di tempatnya, hatinya terasa nyeri melihat Lynx dalam kondisi seperti itu, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti Ling Mei dengan tatapan cemas.

Di dalam kamar, Ling Mei dengan cekatan membersihkan luka-luka Lynx. Tangannya bergerak tanpa ragu, menyeka darah yang mengering di tubuh pria itu. Wajahnya tegang, fokus sepenuhnya pada Lynx.

Namun begitu semua luka selesai dirawat, barulah kesadarannya kembali. Ia menatap tubuh Lynx yang kini berbaring tenang di hadapannya, napasnya mulai stabil. Baru saat itulah ia menyadari sesuatu.

Matanya membelalak.

Apa yang baru saja ia lakukan?!

Wajahnya seketika memerah, dan ia buru-buru menjauh.

Ling Mei menggigit bibirnya, lalu menoleh ke arah Jelita yang masih berdiri di ambang pintu. Dengan suara pelan, ia berkata, "Maaf… Aku seharusnya tidak melakukan ini."

Jelita tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap tenang, tapi ada sesuatu di matanya yang sulit diartikan.

"Aku tahu kau adalah istrinya…" Ling Mei melanjutkan dengan suara lirih, meskipun hatinya terasa sakit saat mengatakannya. "Aku hanya…"

"Istri? Darimana Ling Mei tahu?" Jelita terdiam. Ia tidak ingin menjelaskan apa pun. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia segera menggantikan Ling Mei merawat Lynx.

Ling Mei hanya bisa menatapnya sesaat sebelum berbalik dan melangkah keluar. Ada sesuatu yang menyesakkan di dadanya, namun ini bukan saatnya untuk memikirkan perasaannya sendiri.

Ia harus menemui wali kota.

Setelah mengambil napas dalam-dalam, Ling Mei menuju ruang utama dan menjelaskan semuanya,tentang dunia kecil, energi iblis, dan kejadian yang hampir menghancurkan semuanya.

Ling Mei duduk di ruang utama rumah wali kota, berusaha menenangkan pikirannya. Para pemimpin kota, termasuk Wali Kota Huoling, Komandan Jiang, Li Wei, dan Li Mei, menatapnya dengan penuh harap. Mereka menunggu penjelasannya.

Setelah menarik napas dalam, Ling Mei mulai berbicara, suaranya tenang meski masih dipenuhi ketegangan.

"Yin Yue berhasil mendapatkan fragmen senjata iblis…" katanya perlahan. "Dia memiliki artefak teleportasi yang memudahkannya berpindah tempat di dalam dunia kecil. Dia juga sangat memahami struktur dunia kecil itu, seolah sudah mempelajarinya sejak lama. Karena itu, dia bisa menemukan lokasi fragmen senjata iblis sebelum kami."

Wajah Wali Kota Huoling menegang. "Fragmen senjata iblis… Jadi dia memang mengincarnya sejak awal."

Ling Mei mengangguk. "Saat aku menyadari apa yang terjadi, aku mencoba menghentikannya, tapi aku tidak cukup kuat. Lynx berusaha menyelamatkanku… dan karena itulah dia terluka."

Meskipun ia mengatakan kebenaran, Ling Mei sengaja tidak menyebutkan kekuatan luar biasa Lynx. Bagaimanapun, itu adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat di dunia ini.

Komandan Jiang menghela napas berat. "Jadi Yin Yue sudah pergi dengan fragmen itu… Ini bukan kabar baik."

"Selain itu, portal menuju dunia kecil masih terbuka. Aku sudah mencoba menutupnya, tetapi energi iblis ditempat itu terlalu kuat." Ling Mei menambahkan.

Wali Kota Huoling bertukar pandang dengan mereka semua, lalu berkata, "Setelah kalian pergi, kami juga menghadapi situasi yang sulit."

Ling Mei menajamkan pendengarannya.

"Kami menemukan cara untuk menjebak orang-orang yang sudah terkena pengaruh energi iblis," lanjut wali kota. "Kami memancing mereka agar mengejar kami masuk ke dalam formasi. Rencana itu berhasil… untuk sementara. Formasi berhasil menyerap energi iblis dari tubuh mereka."

"Tapi kemudian, kami menyadari batasan dari formasi itu," Li Wei menambahkan dengan suara muram. "Setelah menyerap terlalu banyak energi iblis, formasi mulai melemah. Akhirnya, ia tak lagi mampu menyerap energi tambahan… Dan itu berarti kami tidak bisa lagi menyelamatkan mereka yang tersisa."

Ruangan menjadi sunyi sejenak. Semua orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

Ling Mei mengepalkan tangannya. "Dan sekarang… energi iblis itu masih belum hilang?"

Komandan Jiang mengangguk. "Ya. Kau bisa melihatnya sendiri."

Ling Mei berdiri dan melangkah ke jendela. Saat menatap langit di atas Kota Huoling, ia melihat kebenaran kata-kata mereka. Awan hitam yang diselimuti energi iblis masih bergulung-gulung di atas kota, menyebarkan aura mencekam yang tak kunjung mereda.

"Kita harus menemukan cara untuk menyelesaikan masalah ini," gumamnya. "Jika energi iblis tetap ada, maka Kota Huoling dalam bahaya."

Semua orang mengangguk setuju. Tapi pertanyaannya adalah… bagaimana caranya?

